-->

Notification

×

iklan

Iklan

Merasa Diteror, Keluarga Pembunuhan Di Samosir Ngadu Ke Polda

Sabtu, 29 Agustus 2020 | 08.02 WIB Last Updated 2020-08-29T01:26:33Z
Keluarga korban pembunuhan di Samosir mengadu ke Poldasu.(POl).
Medan(DN)
Keluarga almarhum Rianto Simbolon, korban pembunuhan sadis di Samosir, mengaku mendapatkan teror dari orang tidak dikenal (OTK), di Dusun I Sosor Simbolon, Desa Sijambur Kecamatan Ronggurnihuta, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara (Sumut).

Atas dasar itu keluarga almarhum yang juga pelapor, meninggalkan Samosir sejak tanggal 25 Agustus 2020. Dan pihak keluarga pun melaporkan teror tersebut ke Polda Sumut, Jumat (28/8/2020).

Didampingi Dwi Ngai Sinaga SH MH dari LBH Parsadaan Pomparan Toga Sinaga dohot Boruna (PPTSB) Se-Dunia dan tim lainnya, seorang anggota keluarga korban, Eron Sinaga (31) mendatangi Polda Sumut melaporkan tindakan teror terhadap dirinya dan keluarga.

Kepada wartawan, Eron Sinaga (31) mengatakan teror yang dialaminya terjadi pasca-pembunuhan sadis yang dilakukan oleh enam orang tersangka pada 9 Agustus 2020 lalu.

“Sejak kejadian dan menjadi pelapor atas kematian Rianto Simbolon, saya kerap mendapat teror,” katanya.

Secara garis kekeluargaan, Eron Sinaga adalah “tulang” atau paman dari Rianto Simbolon.

Diketahui, empat tersangka diantaranya sudah diamankan polisi, sedangkan dua orang lagi masih berkeliaran.

Menurut Eron selama ini keluarga mereka kerap diteror oleh orang tak dikenal (OTK). Setelah korban dimakamkan, malamnya sudah ada kejadian yang enggak biasa terjadi.

“Sepeda motor sudah sering patroli-patroli di depan rumah kita dan berhenti, jadi kan kita takut keluar,” ucapnya.

“Habis pemakaman kan sudah sepi orang, di situlah mulai ada teror ke kita. Di depan rumah kami buat penerangan sekitar lingkungan rumah, mana tau biar nampak orangnya. Bahkan lampunya pun kabelnya diputus,” ungkapnya.

Eron menjelaskan sampai saat ini ia dan keluarga belum mengetahui identitas orang yang kerap kali melintas di kawasan rumahnya dan keluarga.

Namun ia hanya mengetahui satu sepeda motor tanpa plat yang sering berhenti tengah malam di depan rumahnya.

“Kita tengok dari celah-celah rumah itu, sepeda motornya berhenti di depan rumah kita. Kita senter plat sepeda motornya enggak ada. Berarti kan memang sengajakan, platnya enggak ada bahkan sepeda motornya pun bodi-bodinya semua sudah dibuka, cuma rangka,” tutur Eron yang akhirnya meninggalkan kampung halaman dan menutup usaha miliknya.

“Saya punya usaha fotokopi. Karena sudah tidak nyaman akhirnya saya tutup dan istri juga saya titipkan di kampung halaman. Dan kini saya dibawa ke Medan,” katanya.

Sebelumnya, perkara ini sudah pernah ditanyakan kepada penyidik Polres Samosir, namun polisi belum memberikan keterangan kenapa hingga kini dua pelaku lagi belum ditangkap.

“Kalau dihubungi penyidiknya, enggak pernah menjawab, saya telpon berhari-hari enggak pernah diangkat,” ujarnya.

Dwi Ngai Sinaga, kuasa hukum almarhum Rianto Simbolon mengatakan bahwa pasca mendapatkan teror tersebut pihaknya langsung membentuk tim ke Samosir.

“Dari sejak awal kejadian kita dari LBH PPTSB Se-Dunia langsung mengawal proses hukum kasus ini. Dan setelah ditangkapnya para pelaku akhirnya kita kembali ke Medan, tapi karena pelapor mendapatkan teror akhirnya kita membentuk tim secara khusus berangkat ke Samosir serta membawa pelapor ke Medan dan ditempatkan di tempat yang aman hingga akhirnya kita melaporkan hal ini ke Poldasu,” kata Dwi.

Direktur LBH Ikatan Pemuda Karya (IPK) Sumut ini melaporkan hal ini ke Polda Sumut karena tidak adanya LPSK di Sumut.

Namun, di balik peristiwa tersebut secara tegas Dwi berharap agar Kapoldasu turut andil memantau proses hukum yang sedang ditangani oleh Polres Samosir.

Dwi juga berharap agar seluruh stakeholder pemerintah terutama pemerintah pusat beserta jajarannya agar bisa membantu 7 anak almarhum yang sudah yatim piatu.

“Sebagai mana amanat undang-undang termasuk Undang-undang anak, kami berharap agar pemerintah bisa bertanggung jawab kepada 7 anak almarhum yang sudah yatim piatu. Karena hingga saat ini anak-anak almarhum masih berada di kampung halaman, tapi tidak ada yang bisa memberikan bimbingan apa pun. Hanya masyarakat sekitar saja yang peduli di sinilah kami adanya kehadiran negara sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab,” tutup Dwi.(DN/POL).
×
Berita Terbaru Update