-->

Notification

×

iklan

Iklan

Putri Lopian, Pejuang Wanita Batak

Rabu, 21 April 2021 | 14.44 WIB Last Updated 2021-04-21T07:55:05Z
Boru Lopian, Putri Raja Sisingamangaraja XII.(Faseberita.id).
Samosir(DN)
Hari ini 21 April 2021, masyarakat Indonesia memperingati Hari Kartini. Kartini merupakan Pahlawan Nasional yang kerap dianggap representasi dari para pejuang perempuan di Indonesia.

Selain Kartini, bangsa ini masih memiliki sejumlah pejuang tangguh lainnya. Salah satunya Boru Lopian, putri Sisingamangaraja XII yang turut gugur di medan pertempuran bersama Sisingamangaraja XII.

Berbicara tentang Lopian, ia bukanlah “figuran” dan bukan pula sekadar penonton atau pelengkap penderita dari Perang Batak yang berlangsung selama 30 tahun. Lopian juga dikatakan mewarisi karisma dan sikap kesatria dari ayahandanya.

Meskipun dirinya seorang wanita, namun Lopian memegang peran penting dalam menghimpun dukungan berbagai pihak guna mendukung perjuangan yang dilakukan ayahnya terhadap Belanda.

Momentum pertempuran sengit di sekitar Pearaja, Dairi, adalah fakta sejarah dimana hampir seluruh sanak keluarga Raja Sisingamangaraja XII turut terlibat secara frontal menghadapi kepungan tentara Belanda yang penuh nafsu membunuh.

Berdasarkan sejumlah referensi seputar tragedi kematian Sisingamangaraja XII, detik-detik terakhir pada medio Juni 1907 itu, merupakan momentum sangat genting penuh ketegangan.

Pada saat itu, Sisingamangaraja XII bersama istri, anak-anak, para panglima dan sisa pasukannya, terlunta-lunta naik turun jurang, keluar masuk hutan, dalam kejaran tentara Belanda yang jumlahnya besar dengan kelengkapan senjata lebih modern.

Lopian, putri dari Sisingamangaraja XII yang dengan gagah berani turut bertempur hingga titik darah penghabisan bersama ayahnya tersebut. Lopian lahir di Pearaja Dairi desa Sionomhudon.

Ia merupakan anak ketiga Sisingamangaraja dan satu-satunya anak perempuan. Kedua abangnya bernama Patuan Nagari dan Patuan Anggi Dalam berbagai kisah yang dututurkan para orang tua di tanah Batak diceritakan, sosok Lopian sejak usia belia sering menghabiskan waktu dengan para prajurit termasuk para panglima dari Aceh.

Lewat pergaulan dengan para prajurit serta hulubalang dari Aceh, Lopian pun menimba ilmu bela diri serta bagaimana caranya menggunakan senjata. Pada Juni 1876 lewat Rapat Raksa yang berlangsung di Balige, Sisingamangaraja XII bersama dengan Raja-raja Toba mengumumkan maklumat perang terhadap Belanda.

Sisingamangaraja pun memberikan pilihan kepada para anggota keluarganya apakah mengungsi atau ikut berperang melawan Belanda. Lopian saat itu berusia tujuh belas tahun. Ia tidak mau mengungsi dan memilih ikut serta bertempur melawan Belanda bersama ayah dan kedua abangnya.

Perang sendiri baru mulai berkobar pada tahun 1877. Awal mula Perang Batak dimulai di Bahal Batu, Humbang. Lopian sebagai sosok putri yang setia hingga akhir mendampingi ayahnya dalam kancah perjuangan yang meletihkan.

Kendati sebelum kematiannya, ayahnya telah memerintahkan seluruh keluarga mencari tempat perlindungan yang aman, tapi Lopian bersikeras ingin mendampingi ayahnya. Itu sebabnya, selama detik-detik perburuan Belanda terhadap Sisingamangaraja XII, Lopian ikut bergerilya mendampingi, dan ikut melakukan perlawanan.

Selama 22 tahun Sisingamangaraja bersama putrinya Lopian bergerilya di tanah Batak, berpindah-pindah tempat menjadi garda terdepan menghadang pasukan Belanda. Lopian pula yang kerap menyemangati pasukan sedang dalam tekanan.

Ia pun turut merawat para prajurit yang terluka dalam pertempuran. Tak jarang pula, Lopian membesarkan dan memberikan penghiburan kepada ayahnya disaat anggota keluarga karena tewas dalam pertempuran. Disaat pasukan Sisingamangaraja XII tidak bertempur, Lopian memberikan pembinaan pertanian, ataupun pendidikan.

Kegigihan dan keuletan Lopian itu menimbulkan kesetiaan dan dukungan untuk berjuang melawan Belanda. 17 Juni 1907, pengepungan pasukan Belanda di bawah komando Kapten Christoffel di Desa Sionom Hudon membuat pasukan Sisingamangaraja XII terjebak dalam posisi terjepit di jurang Sindas, Sitopangan.

Persenjataan pihak Belanda yang moderen menghujani prajurit Sisingamangaraja dengan peluru. Dua putra Sisingamangaraja XII yakni Patuan Anggi dan Patuan Nagari tewas tertembak. Suasana sempat hening sejenak manakala Kapten Christoffel berseru, agar Sisingamangaraja XII menyerah.

Namun, seruan Kapten Christoffel dibalas dengan lantang oleh SiSingamangaraja XII dari balik rerimbunan pohon tempatnya berlindung dari terjangan peluru dengan mengatakan: “Lebih baik mati dari pada menyerah kepada penjajah”.

Tak lama berselang terdengar jeritan Lopian putri sang raja, yang rupanya terkena tembakan. Seketika Sisingamangaraja XII terkesima, melihat putrinya tercinta rubuh bersimbah darah di atas rerumputan.

Dengan piso gajah dompak terhunus di tangan, Sisingamangaraja XII mendekati Lopian dengan langkah lemas dan duka mendalam.

Raja Bakkara tersebut langsung memangku jasad putrinya yang bersimbah darah. Hal itu diungkapkan oleh Raja Sabidan, salah satu putra Sisingamangaraja XII yang turut dalam pertempuran tersebut. Raja Sabidan melihat ayahnya, Sisingamangaraja XII mendekap dan memeluk Lopian yang berlumuran darah dengan erat-erat.

Sabidan bersaksi bahwa dalam keadaan lemah, karena sudah beberapa hari tidak makan, Baginda Raja masih sempat berdoa: “Ya Ompu Debata Mulajadi Na Bolon, lindunglah bangsaku ini dari tangan musuh yang durhaka”.

Dalam keadaan Sisingangamaraja bersimbah darah itu muncullah serdadu marsose Belanda yang langsung melepaskan tembakan tepat menembus jantung Sisingamangaraja XII. Sambil menatap wajah marsose yang menembaknya, sebelum tewas, Sisingamangaraja XII mengucapkan kalimat “Ahu Sisingamangaraja”.

Ia gugur dalam usia 59 tahun. Beberapa waktu lalu, muncul suara yang mengusulkan agar Lopian dinobatkan menjadi “Pahlawan nasional” seperti juga ayahnya. banyak yang menyahuti usulan itu dengan respons positif.(FaseBerita.ID).
×
Berita Terbaru Update