-->

Notification

×

iklan

Iklan

FB-IMG-16165485030001093

Ritha Tambunan Gagas Konsep Dalihan Na Tolu Dalam Pengembangan Ulos Silalahi

Senin, 06 Desember 2021 | 20.33 WIB Last Updated 2021-12-06T14:20:56Z
Ritha Tambunan bersama mahasiswa USU melakukan pengabdian masyarakat di Kampung Ulos Silahisabungan.
Dairi(DN)
Dra. Ritha Tambunan M.Si dikenal sebagai pegiat budaya yang cukup mapan pengetahuannya tentang beragam warisan leluhur Batak. Kendati demikian, selaku akademisi, Ritha tak bosan-bosannya berupaya menggali peninggalan budaya Batak untuk dikembangkan dan dilestarikan, salah satunya Ulos Batak.

Tak hanya kata, Dra. Ritha Tambunan, M.Si bersama Dra. Mariana Makmur dan beberapa mahasiswa Antropologi Sosial, FISIP, Universitas Sumatera Utara, melakukan kerja nyata berupa pengabdian masyarakat tentang pengembangan perajin tenun berbasis kekerabatan Dalihan Na Tolu Di Kampung Ulos Silahisabungan, Desa Silalahi I, Kecamatan Silahisabungan, Kabupaten Dairi.

"Kain tenun tradisional Indonesia mempunyai nilai budaya tinggi, terutama dari aspek  estetika dan ragam motif. Kain tenun tradisional memiliki nilai filosofi dari aspek fungsinya, oleh karena itu merupakan warisan budaya yang perlu dipertahankan," ujar Ritha Tambunan, 6/12.

Menurutnya, kain tenun tradisional seperti Ulos Silalahi adalah atribut budaya juga, yaitu sebagai kain adat sepanjang lingkaran hidup (life cycle) masyarakat Batak Toba.

Dalam pelestarian kain tenun Ulos Silalahi, Ritha menemukan sejumlah kendala. Salah satunya, berdasarkan data dari Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) tahun 2009, di Sumatera Utara secara umum penenun kain tenun tradisional di Sumatera Utara regenerasi penenunnya mengalami kemunduran.

Hal ini bisa dilihat dari keahlian menenun dan  membuat ragam hias (motifnya), serta minat kaum muda untuk belajar bertenun mengalami kemunduran sehingga perlu ada upaya untuk menggairahkannya.
Pengabdian masyarakat oleh mahasiswa USU di Kampung Ulos Silahisabungan.
"Kemunduran regenerasi ini harus diatasi dengan gencar menggelar pelatihan bertenun kepada para remaja putri. Hal ini guna mengedukasi dan memotivasi mereka bahwa bertenun bisa menjadi keterampilan sekaligus mata pencaharian," jelas Ritha.

Kendala lain, diakunya bahwa kebutuhan bahan baku seperti benang dan kekurangan modal untuk bertenun, seringkali dialami para penenun. Tak hanya itu, sistem pemasaran ulos tersebut juga masih tradisional, sehingga terkadang

"Solusinya, para penenun harus dibantu mendapatkan bahan baku benang yang lebih mudah dan murah. Serta mengedukasi penenun untuk belajar memasarkan kain tenun ulos berbasis online agar harga akhir kain mereka sesuai dengan jerih payah para penenun," harapnya.

"Orang Batak sebagai pemilik warisan budaya ini harus mempertahankan dan mengembangkan ulos ini sekaligus untuk peningkatan ekonomi perajin," bebernya.

Dikatakan Ritha, pengembangan dan regenerasi perajin kain tenun ulos di Kampung Ulos Silalahi di Desa Silalahi 1, dapat dilakukan dengan menguatkan solidaritas  kekerabatan Dalihan Na Tolu.

"Pola yang mungkin bisa dilakukan adalah dengan memotivasi dan mengedukasi para remaja putri agar mau meneruskan keterampilan bertenun kain ulos untuk peningkatan pendapatan ekonomi keluarga," ungkapnya.
Penenun Ulos di Kampung Ulos Silahisabungan.
Sehingga, melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, dia berharap dapat memotivasi dan mengajak seluruh perajin dan kekerabatan Dalihan Na Tolu di Desa Silalahi 1, sebagai partisipasi dalam pengembangan kain tenun tradisional ulos.

Menurutnya, pengembangan itu bisa dilakukan dengan penguatan komunitas perajin berbasis kekerabatan marga dan struktur sosial Dalihan Na Tolu, karena mereka tinggal dalam satu desa marga. 

"Pengabdian kepada masyarakat ini diharapkan dapat memulai pelatihan menenun agar regenerasi perajin/penenun tercipta sehingga kain tenun Ulos Silalahi dapat dipertahankan sebagai warisan budaya yang berharga," harap Ritha. 

Selanjutnya dengan pengembangan perajin tenun berbasis kekerabatan Dalihan Na Tolu dalam pengadaan bahan baku benang dan juga dalam memasarkan hasil tenun ulos agar harga pantas sehingga pendapatan perajin tenun Ulos Silalahi juga meningkat. 

"Pola pengembangan pertenunan di Silalahi 1 juga bisa dilakukan dengan sistem Bapak angkat oleh keturunan marga Silahisabungan sehingga para penenun bisa ditingkatkan pendapatannya," tandasnya.(JS).
×
Berita Terbaru Update