-->

Notification

×

iklan

Iklan

Tertahan Dalam Dimensi Retorisme Belaka

Jumat, 22 Januari 2021 | 18.22 WIB Last Updated 2021-01-22T13:13:52Z
Ilustrasi.(tulismenulis).
Oleh: Suriono Brandoi Siringoringo, SE
Kugelayutkan denyar-denyar nafasku pada reriak kata-kata, pada tiap jengkal kalimat yang sesekali menjelma makna yang menyentak-nyentak naluri.

Kuhempaskan lelahku pada bait-bait perputaran tiga waktu, lalu kuhamparkan serajut riwayat yang tercecer di belantara rasa.

Ada beragam absurditas yang menghunjam imajiku, ada kedalaman makna yang tak dapat ku selami. Seakan rekam jejak dari masa silam berotasi di sumbu putar, bak rol film dari abad silam yang menampilkan cerita romantis, antara puteri istana dengan pemuda penjual roti di Lebanon.

Menurutmu kali ini aku sedang menulis apa? Menulis tentang hidupku yang berupa hamparan kertas, atau menulis tentang kamu yang kini mulai menjadi gunting dalam tiap gulunganku?

Aku tidak tahu apa yang kutulis, saat ini aku hanya ingin menulis banyak hal yang berbeda, berserak, untuk kemudian menyatukannya meski aku sendiri tak mengerti. Aku hanya ingin menghadirkan distorsi yang membentuk bahasa manis dalam aksara kata.

Namun, entah ini adalah satu dari sekian ketidaksempurnaanku dalam dimensi hidup, karena sejujurnya aku masih diliputi kebingungan dan mengingat-ingat apa yang membuatku gelisah.

Ah..entahlah, apakah kematian yang datang dengan tiba-tiba? Atau barangkali kebahagiaan itu hanyalah uforia dalam labirin dingin tak bertepi? Pertanyaan-pertanyaan yang hanya akan membuatku tertahan dalam dimensi retorisme belaka.

Entah bagaimana lagi aku bisa tegak berdiri walau idealisme, hiperbolisme, cita dan cinta hanyalah sepercik buih di tengah samudra.

Entahlah, ada yang redup dari cahayaku saat ini. Layaknya laut yang kehilangan ombak atau nyiur yang kehilangan angin. Burung-burung yang terbungkam kicaunya atau bumi yang kehilangan mentarinya. 

Entahlah, terjebak dalam kenihilan hati memang menjadi kesan tersendiri. Menghela napas adalah jalan untuk mengurangi sementara kesempitan dada di antara kelapangan rahmat Tuhan.

Lalu aku bertanya padamu mentari, mengapa ronamu tak jua turut redup bersama lesunya sang jiwa?
×
Berita Terbaru Update