-->

Notification

×

iklan

Iklan

Keberadaan Bangunan di Bukit Holbung Dikeluhkan Wisatawan

Sabtu, 29 Mei 2021 | 13.18 WIB Last Updated 2021-05-29T06:42:27Z
Bangunan di Bukit Holbung.(gosumut).
Samosir(DN)
Bukit Holbung baru saja menyelamatkan wajah pariwisata Sumut dalam ajang Anugerah Pesona Indonesia (API) 2020. Berselang beberapa hari, saat ini justru sedang ramai di media sosial, mengeluhkan bangunan gubuk di Bukit Holbung, Desa Hariara Pohan, Kecamatan Harian, Samosir.

Soalnya, keberadaan bangunan gubuk itu  disinyalir bakal merusak eksotisme Bukit Holbung yang baru saja namanya mendunia berkat raihan penghargaan API.

Dilansir dari gosumut, seorang fotografer, Sri Andoko, yang sedang melakukan hunting foto di sekitar Bukit Hobung, Kamis (27/5/2021) menyesalkan penghargaan itu berpotensi hilang atau dicabut dari Sumut karena saat ini ada dua bangunan warung berdiri di perbukitan di sana.

“Kalau ini dibiarkan maka akan muncul bangunan-bangunan lain yang akan merusak eksotisme Bukit Holbung,” katanya.

Dia menunjukkan foto-foto bangunan warung itu yang sedang dalam keadaan ditinggalkan pemiliknya. Soalnya, Pemerintah Kabupaten Samosir menutup sementara Bukit Holbung dari kunjungan wisatawan guna mencegah pandemi Covid-19, demikian pula objek wisata lain di Samosir, seperti Sibea-bea dan Air Terjun Efrata.

Andoko mengatakan sejumlah warga setempat juga menyesalkan berdirinya dua bangunan warung itu di perbukitan Holbung. “Mereka sudah menegur pemilik warung tapi dia bersikukuh sebagai pemegang hak ulayat di lahan Bukit Holbung,” kata Andoko.

Masih dilansir dari gosumut, Onny Kresnawan, seorang sineas yang kerap membuat film dokumenter di sekitar kawasan Danau Toba, termasuk Bukit Holbung, juga menyesalkan berdirinya bangunan warung liar di sana.

“Hal itu bisa merusak eksotisme Bukit Holbung dan Danau Toba. Agaknya perlu dibangun kesadaran wisata masyarakat sekitar kawasan super prioritas pariwisata itu, apalagi Danau Toba sudah ditetapkan Unesco sebagai geopark (taman bumi warisan dunia),” ungkapnya.

Menyikapi hal itu, Ria NovidaTelaumbanua, kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut, menyesalkan bangunan itu bisa berdiri di Bukit Holbung di tengah kondisi saat ini. Ia berjanji segera mengeceknya. “Kami akan berkoordinasi dengan pemerintah setempat untuk menertibkannya,” jelasnya.

Ria mengakui di kawasan Bukit Holbung  masih terdapat konflik tanah ulayat, tapi menyayangkan dalam upaya Sumut memajukan pariwisata saat ini masih ada segelintir orang melakukan cara-cara yang justru mengganggu upaya, apalagi dengan merusak eksotisme Danau Toba yang merupakan kawasan wisata super prioritas.

"Mudah-mudahan pihak Pemda Samosir bisa segera mengembalikan wajah Bukit Holbung seperti sediakala. Kita semestinya jangan memikirkan kepentingan pribadi masing-masing, karena itu mari kita jaga Bukit Holbung dan kawasan wisata Danau Toba lainnya supaya bermanfaat buat banyak orang,” pungkasnya.

Sementara itu, Kadispar Samosir, Dumosch Pandiangan yang dihubungi, mengatakan, pihak pemerintah desa setempat dan BUMDes Pengelola Bukit Holbung sudah berupaya menghimbau, namun tak diindahkan.

Sembari berusaha dengan pendekatan persuasif, agar bangunan tersebut segera dibongkar, Pemkab Samosir melalui Dispar juga sedang berupaya memfasilitasi melalui pengajuan pembangunan Rest Area di lokasi tersebut. "Tapi masih butuh waktu untuk merealisasikannya," tutur Kadispar Samosir, Dumosch Pandiangan, Sabtu, 29 Mei 2021.(red/Gosumut.com).
×
Berita Terbaru Update