-->

Notification

×

iklan

Iklan

Briptu Cecilia Ritonga, Polwan Sumut Penjaga Perdamaian PBB di Afrika

Senin, 31 Mei 2021 | 10.37 WIB Last Updated 2021-05-31T04:38:55Z
Cecilia dan rekannya Rantika memberikan bantuan pertolongan pertama kepada masyarakat setempat setelah mengalami kecelakaan sepeda motor sebagai bagian dari misi penjaga perdamaian PBB di Republik Afrika Tengah.(ist).
Medan(DN)
Salah satu Polisi Wanita (Polwan) asal Polda Sumut, saat ini tengah melaksanakan tugas dalam misi perdamaian dunia PBB. Selain membanggakan nama Indonesia, ia juga mengharumkan nama Sumatera Utara. Karena, yang bersangkutan merupakan putri asli Sumut berdarah Batak.

Polwan tersebut adalah Briptu Cecilia Permatasari Ritonga. Penyidik ​​di bidang Reskrim yang saat ini masih berusia 24 tahun, bertugas sebagai pasukan perdamaian di Afrika Tengah dalam Misi United Nations Multidimensional Integrated Stabilization Mission in the Central African Republic (MINUSCA).

Selama bertugas di Afrika Tengah, Briptu Cecilia ditunjuk sebagai Sersan Taktis Pasukan Pertama di Misi Stabilisasi Terpadu Multidimensi Perserikatan Bangsa-Bangsa di Republik Afrika Tengah (MINUSCA).

Dalam rangka memperingati Hari PBB Internasional tahun ini, Cecilia mengatakan beberapa tantangan dan peluang yang mungkin dihadapi oleh pasukan PBB wanita muda selama misi, dan peran penting wanita dalam menjaga perdamaian dan keamanan internasional.

Ada beberapa tantangan yang harus diatasi selama bertugas, misalnya, belajar bahasa Prancis dan Sangho di Republik Afrika Tengah serta menyesuaikan dengan budaya baru.

"Bagi saya, membawa senjata api setiap hari juga merupakan hal baru. Tetapi saya selalu tertarik untuk belajar dan melengkapi diri saya dengan keterampilan penting untuk misi penjaga perdamaian," ucap Briptu Cecilia. 

Briptu yang akrab dipanggil Cici ini juga mengatakan pasukan PBB melakukan yang terbaik untuk menunjukkan kemampuan dan keinginan mengembangkan keterampilan baru dan mendapatkan pengalaman baru.

"Sebagai pemuda penjaga perdamaian, kami melayani dengan perspektif, antusiasme, dan niat baik," ujarnya.

Bagi pemuda pemelihara perdamaian Indonesia, sambungnya, media sosial telah menjadi alat yang luar biasa untuk berbagi kegiatan pemeliharaan perdamaian kami dengan semua orang dan membuat kami tetap terhubung dengan keluarga dan teman selama pandemi COVID-19.

Dengan memposting di Twitter, Instagram, WhatsApp, dan YouTube tentang kehidupan kita sehari-hari, kita dapat menyampaikan pesan penting tentang pemuda, perdamaian, dan keamanan kepada dunia.

“Saya sangat bangga bisa berkontribusi dalam menjaga perdamaian dan menyelesaikan konflik sebagai personel Blue Helmet, terutama ketika saya melihat perempuan memainkan peran di lapangan yang tidak kalah pentingnya dengan rekan laki-laki mereka," jelas Briptu Cecilia Ritonga

Selama patroli harian, saya berinteraksi dengan komunitas lokal dan melakukan percakapan dari hati ke hati dengan wanita dan anak-anak. Saya juga mengajari mereka bela diri dan mendorong mereka untuk menjadi berani dan berbicara untuk diri mereka sendiri.

"Bagi kelompok rentan seperti perempuan dan gadis penyintas kekerasan berbasis gender, kehadiran perempuan penjaga perdamaian membuat mereka aman secara fisik dan emosional untuk mengungkap segala jenis pengalaman," ungkapnya. 

“Jangan takut.' Itulah pesan utama yang saya bagikan kepada semua wanita dan gadis yang bercita-cita menjadi penjaga perdamaian. Akan ada hambatan, namun bisa diubah menjadi peluang. Tetaplah bersemangat dan jangan pernah menyerah," pungkasnya.(red).
×
Berita Terbaru Update