-->

Notification

×

iklan

Iklan

IMG-20220326-WA0052

Kisah Perjuangan Angel yang Tewas dalam Aksi Damai di Myanmar

Jumat, 05 Maret 2021 | 04.08 WIB Last Updated 2021-03-05T01:14:09Z
Gadis itu bernama Angel, dikenal juga dengan nama Kyal Sin.(kolase foto Instagram).
Myanmar(DN)
Tulisan "Everything will be OK," (Semuanya akan baik-baik saja-red) di T-shirt yang dikenakan Ma Kyal Sin rupanya tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Pasalnya unjuk rasa anti-kudeta militer di Myanmar kembali merenggut nyawa, termasuk perempuan berusia 19 tahun tersebut.

Dilansir dari Reuters, Ma Kyal Sin, yang juga dikenal dengan nama Deng Jia Xi dan Angel, merupakan salah satu pengunjuk rasa yang bergabung bersama ratusan orang dalam unjuk rasa hari Rabu (3/3/2021) di jalan-jalan Mandalay.

Setelah berjuang dalam unjuk rasa di jalan Mandalay, Kyal Sin tewas setelah sebuah peluru yang ditembakkan aparat keamanan, menyasar ke kepalanya.

Terlihat dalam foto-fotonya saat aksi protes, ungkapan dari kaos Angel itu dengan cepat menjadi viral di media sosial ketika pengguna media sosial mengunggah aksi brutal aparat keamanan yang telah menewaskan sedikitnya 18 orang di sekitar Myanmar sepanjang hari.

Seorang juru bicara junta militer tidak menanggapi permintaan untuk mengomentari insiden pembunuhan itu.

Myat Thu, seorang teman yang bersamanya turun dalam aksi protes, mengenang seorang wanita muda pemberani. Dia mengenang saat Angel menendang pipa air sehingga demonstran dapat mencuci muka dan mata mereka di ketika polisi menembakkan gas air mata ke arah massa.

"Ketika polisi melepaskan tembakan dia mengatakan kepada saya 'Tiarap! Tiarap! Peluru akan mengenaimu," kenang Myat Thu (23).

"Dia merawat dan melindungi orang lain sebagai kawan sendiri."

Myat Thu mengatakan dia dan Angel adalah di antara ratusan yang berkumpul dengan damai di kota kedua Myanmar untuk mengecam kudeta dan menyerukan pembebasan pemimpin yang ditahan Aung San Suu Kyi.

Sebelum polisi melakukan penyerangan dan menembaki demonstran, Angel terdengar berteriak, "Kami tidak akan berlari" dan "tidak boleh ada pertumpahan darah.”

“Pertama, polisi memembakkan gas air mata untuk memukul mundur massa aksi, “kata Myat Thu.

Kemudian peluru tajam datang.

Foto-foto yang diambil sebelum dia terkena peluru dan tewas, menunjukkan Angel berbaring untuk berlindung di samping spanduk protes, dengan kepalanya sedikit terangkat. “Semua orang berpencar,” kata Myat Thu.

Baru kemudian dia mendapat pesan: Satu gadis meninggal. "Saya tidak tahu bahwa itu adalah dia," kata Myat Thu.

Ia kemudian melihat foto yang segera beredar di Facebook yang memperlihatkan wajah Angel terbaring tak bernyawa di samping korban lain.

Pertumpahan darah Rabu (3/3/2021), lebih dari dua kali lipat jumlah korban tewas pada aksi protes yang telah menarik ratusan ribu orang ke jalan-jalan Myanmar.

Militer mengatakan satu polisi telah meninggal, telah mengatakan akan bertindak terhadap "demonstran perusuh".

Myat Thu mengenal Angel di latihan taekwondo. Dia adalah seorang ahli dalam seni bela diri serta penari di Mandalay's DA-Star Dance Club.

Dia juga berbagi kebanggaannya mengikuti pemilu untuk pertama kalinya pada 8 November lalu-memposting foto dirinya mencium jarinya, yang bernoda ungu untuk menunjukkan dia telah memilih.

"Suara pertama saya, dari lubuk hati saya yang paling dalam," dia memposting, dengan enam hati merah.

"Aku melakukan tugasku untuk negaraku," tulisnya.

Pada hari kudeta, Angel bercanda di Facebook bahwa dia tidak tahu apa yang terjadi ketika internet terputus.

Pada hari-hari berikutnya, dia memposting foro dirinya berdiri di jalan melambaikan bendera merah Partai Liga Nasional Untuk Demokrasi Suu Kyi.

Dalam satu set foto, dia berpose sebagai ayahnya mengikat pita merah di pergelangan tangannya.

Dia terus berjalan bahkan ketika aksi protes semakin berbahaya dan ketika junta mengerahkan pasukan tempur dengan senapan serbu bersama polisi.

Seperti Angel, lebih dari puluhan demonstran lainnya telah terbunuh oleh tembakan aparat kemanan di bagian kepala, menimbulkan kecurigaan di antara kelompok-kelompok hak asasi manusia bahwa mereka sengaja menjadi sasaran.

Wanita lain, menurut seorang pengamat, ditembak di kepala di Mandalay pada hari Minggu.

Angel tahu dia mempertaruhkan nyawanya
Seorang teman, Kyaw Zin Hein, membagikan salinan pesan terakhir Angel kepadanya di media sosial.

Pesan Angel itu berbunyi: "Ini mungkin terakhir kalinya saya mengatakan ini. Aku sangat menyayangimu. Jangan lupa".

Di Facebook, dia telah memposting rincian medisnya dan permintaan untuk menyumbangkan tubuhnya jika dia terbunuh. Pesan kesedihan dan pujian membanjiri halaman Facebooknya pada hari Rabu.

"Dia adalah seorang gadis yang bahagia, dia mencintai keluarganya dan ayahnya sangat mencintainya juga," kata Myat Thu.

Kemudian Myat Thu menuliskan, "Kita tidak dalam perang. Tidak ada alasan untuk menggunakan peluru tajam yang mengarah kepada orang- orang. Jika mereka adalah manusia, mereka tidak akan melakukannya."

Sebelumnya Utusan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Myanmar, Christine Schraner Burgener melaporkan setidaknya 38 orang tewas di Myanmar Rabu (3/3/2021) ketika aparat keamanan menembaki para demonstran untuk membubarkan massa aksi protes terhadap pemerintahan militer pada Rabu (3/3/2021).

Dia menyebut setidaknya 50 orang sudah tewas dan masih banyak warga sipil menjadi korban luka-luka sejak kudeta yang menggulingkan pemerintahan yang terpilih secara demokratis di bawah Aung San Suu Kyi.

Kudeta militer dan penahanan Aung San Kyi terjadi 1 Februari yang menyulut aksi protes warga di Myanmar dan kecaman dari dunia.

Pasukan keamanan Myanmar menembaki demonstran aksi protes menentang pemerintahan militer pada hari Rabu, sehari setelah negara-negara tetangga di Asia Tenggara menyerukan untuk menahan diri dan menawarkan diri membantu Myanmar menyelesaikan krisis.(Reuters/AFP)
×
Berita Terbaru Update