-->

Notification

×

iklan

Iklan

Drama Partai Demokrat: Adu Kuat Moeldoko Vs AHY Plus SBY

Sabtu, 06 Maret 2021 | 06.54 WIB Last Updated 2021-03-06T00:04:36Z
Moeldoko dan AHY.(ist).
Jakarta(DN)
Berdiri di depan mimbar, Moeldoko yang mengenakan setelan jas biru menyerukan untuk meraih kembali kejayaan Partai Demokrat. Di dalam sambutannya, berulang kali Kepala Staf Kepresidenan itu berteriak, "Demokrat!" sembari mengepalkan tangan ke atas. Suaranya yang menggelegar disambut kepalan tangan dan riuh tepukan tangan dari kader partai tersebut.

Moeldoko ditetapkan sebagai ketua umum melalui Kongres Luar Biasa (KLB) yang mengatasnamakan Partai Demokrat di Deli Serdang, Sumatera Utara, Jumat (5/3).

Dengan terpilihnya Moeldoko, disinyalir adanya dualisme kepemimpinan di tubuh Demokrat, yang sebelumnya telah dipegang oleh Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Keduanya diklaim bisa memimpin partai berlogo Mercy itu hingga 2025 mendatang.

Moeldoko berujar, sebelum ia hadir di Hotel The Hills Sibolangit, tempat berlangsungnya KLB itu, ia memastikan terlebih dahulu bahwa kongres tersebut sudah sesuai Anggaran Dasar Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Demokrat. "Setelah ada kepastian, saya sukarela datang ke sini meskipun macetnya luar biasa," kata dia.

Ia menyampaikan terima kasih kepada kader-kader yang telah memilihnya. Sebab, dalam penentuan ketua umum itu, Moeldoko disebut mengalahkan Marzuki Alie, eks Ketua DPR. Menurutnya, Marzuki Alie juga sosok yang tak kalah hebatnya.

"Pak Marzuki Alie punya pengalaman di partai politik luar biasa. Saya punya pengalaman militer dan pemerintahan," kata pria berusia 63 tahun itu.

Ia meyakini, dengan latar yang beragam, semangat dari para pendiri, senior, serta kader di pusat, daerah, hingga cabang, jika disatukan akan "menggemparkan Indonesia". Ia pun menyerukan kepada seluruh kader untuk bersama-sama berjuang meraih kembali kejayaan Demokrat.

"Tidak ada yang tertinggal, semuanya bersatu padu, ini rumah besar kita bersama," kata eks Kepala Staf TNI AD itu.

Moeldoko pun menyinggung soal kepemimpinan. Baginya yang pernah menduduki jabatan Panglima TNI, kekuatan sebesar itu justru ada di pundak para 'komandan lapangan' yang ia maksud adalah kader Demokrat yang tersebar di beberapa daerah.

"Panglima tidak ada artinya kalau tidak memiliki prajurit yang tangguh. Jangan lupa, seorang pemimpin tugasnya memberikan kekuatan kepada bawahan-bawahan, bukan malah mengecilkan bawahannya. Itu beri energi luar biasa kepada bawahan," sindir dia.

AHY Melawan
Di tengah ramainya kabar pendongkelan kepemimpinan oleh Moeldoko itu, AHY pun langsung buka suara. Ia menandaskan bahwa acara itu dilakukan secara ilegal oleh mantan kader yang bersekongkol dengan aktor eksternal.

"Kami berdiri di sini tidak sendiri. Kami berdiri tegak didukung oleh jutaan kader mewakili 34 ketua DPD, 514 Ketua DPC serta mewakili ribuan anggota fraksi yang duduk di Kursi Dewan. Kami juga berdiri di sini karena telah mendapatkan mandat dari kader yang mempunyai suara yang sah, dari kongres yang sah, dan demokratis serta disahkan oleh negara," kata AHY pada jumpa pers di DPP Partai Demokrat jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, (5/3).

AHY menegaskan KLB digelar secara ilegal mengatasnamakan Partai Demokrat di Deli Serdang Sumatera Utara. "Apa yang mereka lakukan tentu didasari niat yang buruk dan cara yang buruk," katanya. Karena KLB tidak berdasar oleh aturan partai dan tidak sah menurut negara.

"Saya ingin menjelaskan sesuai dengan konstitusi partai, partai demokrat memiliki AD ART yang menjelaskan mengapa KLB itu ilegal. Untuk menyelenggarakan KLB harus dihadiri 2/3 DPD dan setengah dari jumlah DPC dan harus disetujui Ketua Majelis Partai.

Apabila tidak dipenuhi maka KLB tersebut itu tidak sah. Faktanya, ketua DPD dan DPC tidak ikut KLB. Mereka sedang berada di daerah masing-masing, apabila ada yang mengaku mempunyai suara yang sah itu adalah bohong," AHY menjelaskan.
Moeldoko dan SBY.(ist).
SBY Merasa Bersalah
Tak lama setelah AHY menyampaikan hal itu, sang ayah, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang juga Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, turut menggelar jumpa pers di kediamannya, Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat.

Pada kesempatan itu, SBY mengaku malu telah memberikan jabatan pada Moeldoko.
Awalnya SBY menyebut bahwa perebutan tampuk kepemimpinan Demokrat itu dinilai tidak terpuji, jauh dari sikap kesatria, dan nilai-nilai moral.

Ia juga menilai hal itu mendatangkan rasa malu di jajaran prajurit yang bertugas di jajaran Tentara Nasional Indonesia (TNI).

"Termasuk rasa malu dan bersalah saya, yang dulu beberapa kali memberikan kepercayaan dan jabatan kepadanya. Saya mohon ampun kehadirat Allah SWT atas kesalahan saya ini," katanya.

Saat SBY menjadi Presiden, Moeldoko memang pernah menjabat Kepala Staf TNI AD, tepatnya Mei 2013 silam. Tiga bulan kemudian, SBY mengusulkan Moeldoko sebagai calon Panglima TNI ke DPR menggantikan Agus Suhartono. Moeldoko pun memimpin TNI sejak Agustus 2013 hingga Juli 2015.

"Saya tidak menyangka Partai Demokrat akan dibeginikan. Karena selama ini, Partai Demokrat tidak pernah mengganggu dan merusak partai lain seperti yang kami alami saat ini," keluh SBY.(red/gatra.com).
×
Berita Terbaru Update