-->

Notification

×

iklan

Iklan

Catatan Cengeng Dari Terusan Tano Ponggol

Minggu, 19 Juli 2020 | 11.19 WIB Last Updated 2020-07-19T07:04:59Z
Ilustrasi.(PUPR RI).
Oleh: Suriono Brandoi Siringoringo
Tidak banyak yang kulakukan senja ini di tepian “Tano Ponggol” selain mencoba meyakinkan hati dan pikiran untuk bertahan dari kekacauan yang menghanyutkanku dalam kesedihan.

Bertahan dari pelukan sepi yang hari demi hari menyusup sedemikian rupa, tepat di antara sela-sela dada, sesuatu yang membuat nafas berhimpitan dan terasa sesak yang terus memuncah menyeretku ke ke dalam hening yang tak terselami.

Ada rasa ingin menghilang seketika dan setelahnya gelap lalu lenyap.
Aku berdiam diri, menikmati senja yang membiru. Menelusupkan angin dalam peparu yang tak seberapa leganya. Aku sedang tak ingin bicara. Aku sedang menikmati diamku untuk beberapa waktu.

Kau tahu, sehalaman kepalaku adalah lembar-lembar diam yang kini kau kosongkan. Oleh adamu, kehadiranmu, senyumanmu dan bau tubuhmu serta kepergianmu.

Kau seperti mimpi yang datang sekilat hari dalam selekas waktu yang membuat aku kerap melamun entah karena sebab apa.
Lamunanku berputar-putar tentangmu yang telah berbeda. Kau yang lelah memandang sekadar siluet di ufuk atau berdiri di sebuah sisi. Kau yang marah pada lukisan kemesraan yang kau pandang.

Kau yang mulai enggan pada keegoisanku yang inginkan kau ada tapi aku tiada. Lalu kau pun memilih pergi ketika ku memintamu tinggal, mengabaikanku ketika ku peduli dan kau berlari ketika aku mendekat.

Akh, saat kupahami segala sendi-sendi kesabaranmu telah remuk, penyesalan pun menyelimutiku.
Ke mana aku harus menitipkan sepi, mengobati luka-luka dan bertahan dengan berpijak di atas kaki-kakiku yang tanpa topangan? Sepi, ke mana aku harus membawamu?

Aku tahu perasaan kita tak sama, tapi bolehkah tanpa kebersamaan aku memimpikan bersama denganmu? Aku tahu ini bertentangan dengan kesamaan prinsip yang kau miliki, tapi salahkah itu?
Lalu, di sinilah aku saat ini. Aku masih memikirkanmu penuh dari detik ke detik. Bahkan mengisi digit-digit terkecil pergeseran waktuku. Kamu menghuni penuh hingga tak ada lagi ruang untukku dalam diriku. Aneh bukan?

Gimana tak aneh coba, semestinya aku telah beranjak dari kenangan masa laluku, karena memaksakan kehendakku dengan memaku pigura bahagia bersamamu hanya akan menerima luka yang semakin karib dengan kesedihan.
Namun, entah kenapa aku masih saja setia menanti mentari yang pulang berganti sabit rembulan yang mengarsir wajahmu dalam kanvas kehidupanku. Kerinduan senantiasa memelukku merapatkan bibir yang setia berbincang dengan bisu. Sebab kata-kata telah terkunci dalam dialog hati.
Akh, seandainya kamu tahu sebenarnya aku begitu letih menarik diri, berperang melawan rinduku sendiri. Aku tak mampu membiasakan diri untuk sendiri melangkah tanpamu, menerjang rinai dengan garang.

Aku masih selalu menunggu senyummu atau merangkul resahmu. Aku juga masih menikmati pagi dengan mengunjungi beranda jejaring sosialmu yang menguburkan sepiku. Aku rindu kala bersamamu.
Ku tahu, ini semua hanya akan melarutkanku dalam kesendirian, kenang yang tak mau berpindah ke tempat yang lebih teduh. Maka dengan puisi kulukis wajahmu, kulukis segala kesanggupanku, seluruh cinta yang aku punya yang membuat gambar kita saling berpeluk erat mengekal rindu sambil bernyanyi tentang hari-hari yang jenuh.

Seperti dada yang lebih lengang dari lorong-lorong yang kerap mengabarkan senyummu. Senyum yang kadang benderang pun pekat membuat bibirku kian dahaga. Mengirim kesepian melekat kekal mendekap membekas.
Namun, semakin aku menulis ini semakin kurasakan kekosongan. Kekosongan yang sungguh kosong. Apa kau tahu? Sesuatu yang mengambang di dalam pikiranku, 80 % rindu yang tidak bisa larut, kecuali dalam campuran kesedihan.

Luka sempat menghampiri dan hendak menyelamatkannya tapi seketika menghilang.
Pada akhirnya, aku masih tetap di tempat ini, Tano Ponggol, mengenangmu sebagai suatu kisah. Aku menyendiri tapi tidak sendiri.

Karena aku masih punya sesuatu yang selalu ku bawa. Itu yang kusebut imajinasi. Aku akan selalu menjadi lelaki cengeng yang penuh imajinasi di bawah rentetan jalan yang boleh dilalui di Tano Ponggol.

Melihat bintang, merasakan hujan dan kembali sendiri dalam senyum semangat hasil olahan taman warna.
Hanya akan menjadi lelaki cengeng yang berkhayal menjadi masa depanmu. Duduk menemanimu bersama secangkir kopi bercanda dengan rerumputan basah dengan kaki telanjang.

Lelaki cengeng yang ingin menjadi masa depanmu, tertidur pulas di pangkuanmu setelah letih dipermainkan hari. Lelaki cengeng yang berharap menjadi masa depanmu, meletakkan kepala di bahumu, menatap senja dari jendela yang sama.
Lelaki cengeng yang ingin menjadi masa depanmu, mengecup keningmu sebelum malam menyelimutimu menuju pagi. Tertawa untuk setiap candamu dan memelukmu ketika kau marah.

Yang ingin menjadi masa depanmu, menyisipkan cinta di telingamu setiap pagi, menyelipkan rindu saat kamu pergi. Lalu menikmati metamorfosa menjadi renta hingga tutup usia.
Namun apalah aku yang selalu menceritakan semua tentang perasaanku lewat senja. Akh, aku hanya mampu membisikkan perasaan ini kepada senja saat kamu membalikkan badan.

Aku hanya mampu membiarkan beribu rindu melayang di udara. Membiarkan jemari ini menulis semua tulisan yang berbau kamu. Ya, aku lelaki dan sebuah rasa yang mengendap lama tak terurai menjadi kata. Sebuah rasa yang pada akhirnya kuberi nama cinta.
Dan di tempat ini, Tano Ponggol, akan selalu menjadi tempatku menyepi ketika sebuah kenangan tentangmu ini kupanggil untuk sekadar menumpas rasa haus akan rindu yang berkepanjangan.

Ya, itu alasan ku menyepi senja ini di Tano Ponggol dari kebekuan impian, pun ketika kesadaran mengikis angan akan dirimu yang telah bermetamorfosis sebegitu cepat, kau yang berjalan begitu bergegas, yang berlari dan hanya meninggalkan tapak-tapak langkah yang kian samar.

Yang berpindah haluan dan tak ingat lagi bahwa ada seorang lelaki cengeng yang berteriak tentangmu di sini.
Datanglah, bila suatu hari nanti kau butuh teman untuk bercerita. Aku masih menunggumu di Tano Ponggol ini setiap waktu. Aku kan selalu di sana menantimu. Menunggumu, membuka pintu yang selama ini kamu kunci rapat.

Aku mungkin sedikit berimajinasi tentang ini. Jika kamu adalah sebuah ruangan, maka aku adalah apa yang kamu kunci di dalamnya. Aku sudah berusaha keluar. Tapi tetap saja kunci ada di tanganmu.

Bagaimana aku harus keluar. Jika kamu tetap membiarkan aku di dalam mungkin lama kelamaan aku akan lemah dan habis di telan waktu. Aku harap kamu mengerti dengan konsep ini. Jika tidak bertanyalah.

Cerpen ini pernah diterbitkan di Tabloid Pos Roha, Tahun 2015.
×
Berita Terbaru Update