![]() |
| GAMKI Bersama sejumlah Lembaga Kristen saat menggelar konferensi pers di Kantor DPP GAMKI.(Net). |
Jakarta(DN)
Menyikapi video ceramah Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla di Masjid Universitas Gadjah Mada yang menuai polemik, Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP GAMKI) bersama lembaga Kristen dan organisasi kemasyarakatan lain mengambil sikap tegas.
Dalam video itu, Jusuf Kalla berujar,b“Kenapa agama gampang menjadi alasan konflik kayak di Poso, Ambon? Karena kedua-duanya Islam dan Kristen berpendapat mati atau menewaskan orang atau mematikan itu syahid. Semua pihak. Kristen juga berpikir begitu. Kalau saya bunuh orang Islam, saya syahid. Kalau saya mati pun saya syahid. Akhirnya susah berhenti.”
Atas pernyataan itu, Minggu (12/04/2026), GAMKI menggelar pernyataan sikap dan konferensi pers bersama DPP Asosiasi Pendeta Indonesia (API), DPP Badan Kerja Sama Gereja dan Lembaga Kristen (BKSG-LK) Indonesia, Dewan Pakar Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI), Gerakan Perjuangan Masyarakat Pluralisme, DPP Si Pitung, DPP Horas Bangso Batak, DPP Pasukan Manguni Makasiouw, DPP Aliansi Timur Indonesia, Tim Manguni, Timur Indonesia Bersatu, Pemuda Batak Bersatu (PBB), Advokat Raja-Raja Batak, Gaharu Nusantara Bersinar, Diaspora, Tegas Jaga Indonesia, Patriot Garda Indonesia, Forum Jurnalis Batak, Garda Borgo Manguni, Seknas Indonesia Maju, dan Kejayaan Nusantara Cerdas.
Dalam forum tersebut, para peserta secara khusus menyoroti pernyataan Jusuf Kalla yang menyebut konflik di Poso dan Ambon dipicu oleh keyakinan “mati syahid” dari kedua pihak. Pernyataan itu dinilai tidak tepat dan berpotensi menyesatkan.
Para peserta memaparkan bahwa konflik di Poso (1998–2001) dan Ambon (1999–2002) pada awalnya bermula dari pertikaian antar warga di masa transisi dari era Orde Baru menuju reformasi.
Konflik kemudian meluas akibat faktor kompleks seperti ketimpangan sosial-ekonomi, persaingan politik lokal, serta lemahnya stabilitas keamanan nasional saat itu.
Mereka menegaskan, isu agama dalam konflik tersebut lebih banyak digunakan sebagai alat mobilisasi massa, bukan sebagai akar utama konflik. Oleh karena itu, penyederhanaan konflik sebagai semata-mata didorong oleh keyakinan agama dinilai sebagai distorsi fakta sejarah yang berpotensi menyesatkan opini publik.
Selain itu, forum juga menilai adanya distorsi terhadap ajaran Kristen dalam pernyataan tersebut. Narasi yang seolah-olah menyamakan konsep “syahid” dengan tindakan membunuh dalam ajaran Kristen dinilai tidak benar.
Para peserta menegaskan bahwa tidak ada satu pun ajaran dalam Alkitab yang membenarkan pembunuhan sebagai jalan menuju keselamatan, melainkan menekankan kasih, pengampunan, dan penolakan terhadap kekerasan.
Forum juga menyoroti perbandingan yang dinilai tidak proporsional antar ajaran agama. Mereka menyatakan bahwa konsep “syahid” memiliki konteks teologis tersendiri, namun tidak dapat disamakan dengan ajaran Kristen yang secara prinsip menolak kekerasan.
Lebih lanjut, pernyataan “agama bukan orang” dalam konteks tersebut dinilai melukai perasaan umat Kristen karena menimbulkan kesan seolah-olah ajaran Kristen membenarkan kekerasan. Padahal, ajaran Kristen justru menjunjung tinggi nilai kasih dan perdamaian.
Ketua Umum DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia, Sahat Sinurat, kemudian membacakan tiga poin sikap resmi hasil konsolidasi bersama.
Pertama, menegaskan bahwa agama Kristen tidak pernah mengajarkan membunuh pemeluk agama lain sebagai jalan menuju surga.
Kedua, mengecam keras pernyataan Jusuf Kalla yang dinilai melukai umat Kristen dan memicu kegaduhan publik. Ketiga, menyatakan akan melaporkan Jusuf Kalla ke Kepolisian Republik Indonesia.
Seusai pembacaan pernyataan sikap tersebut, perwakilan lembaga Kristen dan organisasi masyarakat langsung bergerak dari Sekretariat DPP GAMKI menuju Polda Metro Jaya untuk membuat laporan resmi.(Red).


