-->

Notification

×

iklan

Iklan

IMG-20240221-170348

Menghidupkan Kembali Pangan Lokal, Makanan Para Raja Batak Toba Direvitalisasi

Sabtu, 09 Desember 2023 | 19.04 WIB Last Updated 2023-12-09T16:19:27Z
Ketua Panitia Manguhal Sipanganonni Akka Raja" (Revitalisasi Makanan Para Raja Batak), Charles Malau menyampaikan laporannya.
Samosir(DN)
Indonesia sudah lama dikenal punya kekayaan kuliner yang luar biasa. Kepulauan dari Sumatera sampai Papua memiliki beragam kekayaan, salah satunya adalah makanan khas yang khusus disajikan kepada para raja atau disajikan saat acara-acara tertentu, sehingga dianggap penting dan sakral.

Seperti di Tanah Batak Toba, Kabupaten Samosir misalnya, banyak makanan tradisional zaman dahulu disajikan hanya pada momen-momen tertentu. Itak dengan berbagai jenisnya, Dekke Sorbuk, Naniura dan banyak lagi, merupakan menu makanan istimewa dan memiliki filosofi, yang dihidangkan khusus menjamu para raja serta pada upacara-upacara adat di Tanah Batak.

Namun seiring dengan perkembangan zaman, makanan tradisional yang telah lama dilestarikan oleh nenek moyang kita, kini semakin terpinggirkan atau sudah jarang kita temui.

"Bahkan sudah sedikit orang yang ahli dalam membuat makanan tradisional ini, kebanyakan sudah lanjut usia, sangat jarang sekali anak-anak muda yang berminat dengan makanan tradisional tersebut, sehingga menjadi makanan yang langka didapatkan."

Hal inilah disampaikan Ketua Panitia, Charles Malau dalam laporannya pada acara "Manguhal Sipanganonni Akka Raja" (Revitalisasi Makanan Para Raja Batak) yang digelar di Huta Langat, Desa Simanindo, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sabtu, 9 Desember 2023.

Acara yang digelar 2 hari dengan telisik makanan raja Batak Toba, berbagi resep makanan tradisional Batak Toba yang menghadirkan sejumlah narasumber, serta praktek pengolahan makanan tradisi ini, diadakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi RI melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan.
Manguhal Sipanganonni Akka Raja" (Revitalisasi Makanan Para Raja Batak).
Charles Malau menjelaskan, dalam kegiatan ini pihaknya mengundang sejumlah pengelola homestay, dengan harapan makanan-makanan tradisional ini bisa menjadi pilihan untuk disajikan kepada wisatawan.

Selanjutnya, para ibu PKK desa yang tentunya diharapkan untuk mensosialisasikan makanan tersebut, dan terakhir sejumlah anak SMA 1 Simanindo, yang diharapkan kelak menjadi koki hotel dan percaya diri menyajikan makanan tradisional Batak kepada wisatawan.

Ditambahkan, makanan tradisional Batak Toba banyak menyimpan makna filosofis, baik dari bahan pembuatannya maupun teknik pembuatannya. Sehingga, jika dibiarkan terus-menerus, tentu makanan tradisional lama kelamaan akan menghilang dari peredaran dan semakin tidak dikenali lagi oleh generasi selanjutnya.

"Lewat kegiatan ini kita harapkan transformasi pengetahuan tentang makanan tradisional kepada masyarakat umum, khususnya kepada anak-anak dan kaum muda, sehingga warisan budaya berupa kuliner ini tetap berjalan hingga masa mendatang," pungkas Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Samosir itu.

Sementara itu, Kepala Desa Simanindo, Windah Koleta Turnip dan Lembaga Adat, menyambut baik revitalisasi makanan tradisional Batak Toba, yang disajikan kepada raja-raja terdahulu maupun acara adat. Dan berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut dan rutin digelar.

"Kegiatan ini menegaskan semangat kita bersama untuk menggali, mengangkat, dan memperkenalkan kembali keragaman makanan tradisional Batak Toba untuk diwariskan ke generasi muda, bahkan dikenalkan ke masyarakat luar untuk menjadi daya tarik wisatawan," tutur Kepala Desa Simanindo, Windah Turnip.(SBS).
×
Berita Terbaru Update