-->

Notification

×

iklan

logog

Iklan

logog

Salah Kaprah Pendidikan

Minggu, 02 Mei 2021 | 10.31 WIB Last Updated 2021-05-02T08:33:44Z
Selamat Hari Pendidikan Nasional.
Oleh: Suriono Brandoi Siringoringo SE
"Sekolahlah tinggi-tinggi kelak kau akan kaya, akan mendapatkan pekerjaan yang hebat, akan melepaskan keluargamu dari jeritan kemiskinan, akan…" Pesan seorang ayah kepada anaknya.

Apa jadinya kalau pemahaman tentang kebergunaan pendidikan itu hanyalah mendapatkan pekerjaan dengan upah layak?

Tentu bisa dipahami bahwa salah satu penyebab bertambahnya angka pengangguran setiap tahun yang didominasi oleh (mereka) lulusan perguruan tinggi adalah gengsi.

Karena orangtua menjadikan orientasi masuk sekolah/perguruan tinggi tertentu bagi anak-anaknya, mengharapkan kelak si anak dapat pekerjaan yang mampu mendongkrak stratafikasi sosial keluarga.

Sehingga persepsi yang dibangun dari awal memasuki dunia pendidikan (dasar sampai perguruan tinggi) adalah mendapatkan pekerjaan yang bergengsi.

Pertanyaannya, seiring perkembangan zaman, seberapa persen betul pekerjaan dalam pandangan sarjana itu yang tersedia dan mampu menampung ribuan lulusan perguruan tinggi setiap tahunnya?

Bukankah orientasi pendidikan yang pragmatis ini akan cenderung menghasilkan individu-individu yang pragmatis pula dikemudian hari?

Salah Kaprah Pendidikan
Diakui atau tidak, salah satu indikasi atau alat ukur kecerdasan yang masih melekat di benak hampir setiap orang tua adalah nilai. Setiap akhir semester, yang diperhatikan orang tua adalah raport sang anak. Apakah ada nilai yang turun atau tidak.!!

Salah kaprah tentang tujuan pendidikan inilah yang terus menerus berkembang di masyarakat kita. Padahal pendidikan bukan soal nilai yang diwujudkan dengan angka-angka kelulusan.

Namun jauh dari itu, pendidikan bertujuan untuk memberi ruang pada ekspresi, imajinasi, kreativitas, apalagi pembentukan mental dan karakter. **Selamat Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2021**
×
Berita Terbaru Update