-->

Notification

×

iklan

Iklan

Veritas Unika, Majalah Mahasiswa yang Semula Dianggap Keniscayaan

Sabtu, 24 April 2021 | 07.05 WIB Last Updated 2021-04-24T06:15:33Z
POTONG PITA – Disaksikan Pemred Majalah Veritas Unika, Suryono Brandoi Siringoringo, Rektor Unika Santo Thomas Medan, P. Dr. Hieronymus Simorangkir, Pr memotong pita sebagai tanda diluncurkannya majalah mahasiswa Unika Santo Thomas Medan, Veritas Unika, di Area Bangku Merah Depan Rektorat Unika Santo Thomas Medan, Selasa (4/6/2013).(foto:raden armand firdaus/tribunMedan)
SELASA (4/6/2013) menjadi hari cukup penting bagi Komunitas Veritas Unika Santo Thomas Medan. Komunitas yang mengkhususkan aktivitasnya pada kegiatan menulis, membaca dan meneliti ini meluncurkan publikasi kampus berbentuk majalah yang diberi nama ”Veritas Unika”.

Turut hadir dalam peluncuran tersebut, Rektor Unika Santo Thomas, P. Dr. Hieronymus Simorangkir, Pr, Wakil Rektor II, Surya Abadi Sembiring, Dekan FE Unika Santo Thomas Sarimonang Sihombing, Dekan Fakultas Sastra, Indah Sari, sejumlah alumni Fakultas Ekonomi Unika Santo Thomas, dan puluhan mahasiswa.

Rektor Unika Santo Thomas Medan, P. Dr. Hieronymus Simorangkir, Pr dalam sambutan peluncurannya mengatakan, pihaknya menyambut baik kerjasama dan kreativitas anggota-anggota Komunitas Veritas yang berani menerbitkan majalah mahasiswa Veritas Unika.

Dikatakan Hieronymus, melalui media mahasiswa bisa kreatif dan berekspresi tanpa batas. Menurutnya, kerja keras para tim redaksi Veritas Unika dan dukungan alumni telah berhasil menciptakan karya baru untuk universitas. Diharapkan, nantinya wadah ini bisa dimaksimalkan secara baik sebagai salah satu tonggak akademik kampus.

“Semula kami menganggap ini keniscayaan. Tetapi anggota-anggota Komunitas Veritas yang mayoritas masíh angkatan muda mampu menerbitkannya. Harapan kami, semangat ini terus dijaga sehingga Veritas Unika bisa tetap terbit,” kata Hieronymus.

Hieronymus mengatakan, ke depannya, Veritas Unika diharapkan tidak hanya sebatas menjadi majalah yang memuat cerpen, opini, liputan utama dan berita-berita ringan, tetapi lebih dari itu, Veritas Unika bisa menjadi media yang menampung karya ilmiah hasil dari penelitian mahasiswa. Karena itu, Hieronymus pun mendukung agar ke depannya majalah ini bisa menjadi jurnal ilmiah.

“Saya melihat sebuah peluang di masa depan, bahwa majalah ini bisa menjadi majalah ilmiah dan sebuah tempat bagi mahasiswa  untuk menumpahkan ekpresinya tanpa batasan dan acuan penelitian mahasiswa dalam mengerjakan skripsi. Tidak sebatas mahasiswa Unika saja tapi mahasiswa di luar Unika,” katanya.
FOTO BERSAMA – Rektor Unika Santo Thomas Medan, P. Dr. Hieronymus Simorangkir, Pr bersama anggota redaksi majalah Veritas Unika, dosen dan mahasiswa foto bersama usai peluncuran majalah mahasiswa Unika Santo Thomas Medan, Veritas Unika, di Area Bangku Merah Depan Rektorat Unika Santo Thomas Medan, Selasa (4/6/2013).(foto:raden armand firdaus/tribun Medan)
Peluncuran majalah ini berlangsung sederhana namun penuh makna di area bangku merah depan Rektorat Unika Santo Thomas Medan. Peluncuran ini secara simbolis ditandai dengan pengguntingan pita dan pemecahan balon oleh Rektor dan Wakil Rektor Unika Santo Thomas, para Dekan dan alumni Fakultas Ekonomi Unika Santo Thomas.

Seusai seremoni peluncuran, dilakukan juga penjualan perdana majalah kepada civitas akademi Unika Santo Thomas Medan. Seperti apa hasil penjualan di hari pertama? Tak terlalu mengecewakan. Sambutan civitas akademi cukup baik. Pendapatan dari penjualan majalah di hari pertama mencapai Rp 500 ribuan.

Ketua Komunitas Veritas, Roniko Pardede mengatakan, majalah Veritas Unika diterbitkan oleh Komunitas Veritas. Komunitas Veritas adalah kelompok yang mengkhususkan aktivitasnya pada kegiatan menulis, membaca dan meneliti. Komunitas ini resmi berdiri pada tanggal 23 November 2012.

Kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan Komunitas Veritas selama ini adalah: menyelenggarakan workshop karya ilmiah, latihan menulis setiap dua minggu sekali, mengirim tulisan-tulisan anggota ke media cetak dan mengikuti lomba-lomba penulisan artikel yang dilaksanakan pihak-pihak di luar Komunitas Veritas.

“Penerbitan majalah mahasiswa adalah salah satu program besar kami. Kami berterima kasih atas dukungan semua pihak baik pihak kampus, sponsor, alumni dan mahasiswa yang telah mendukung kami untuk penerbitan majalah ini,” kata Roniko.

Pemimpin Redaksi Veritas Unika, Suryono Brandoi Siringoringo mengatakan, penerbitan Veritas Unika dimaksudkan sebagai sarana berlatih bagi seluruh mahasiswa Unika Santo Thomas Medan untuk menuangkan ide, pikiran, gagasan dan hasil penelitian dalam bentuk tulisan. Bagi anggota Komunitas Veritas, majalah ini juga sebagai media alternatif untuk mempublikasikan karya-karyanya.

“Diharapkan dengan mengelola sebuah majalah mahasiswa, mahasiswa yang tergabung di dalamnya bisa belajar beroganisasi, memanajemen diri, bekerjasama dengan orang lain dan memanajemen waktu,” kata Suryono.
BACKDROP – Inilah backdrop peluncuran majalah Veritas Unika. Majalah ini dijual Rp 3.000 per eksemplar.(foto:repro)
Pemilihan nama Veritas Unika
PERSOALAN nama sempat menjadi perdebatan kecil diantara para anggota Komunitas Veritas Unika Santo Thomas. Tetapi kami berprinsip, nama majalah harus singkat, mudah diingat dan punya makna.

Dari beberapa kali diskusi, kami sepakat nama majalah atau publikasi kampus tersebut harus berlandaskan dua hal yakni: (1) lembaga yang menerbitkan (VERITAS) dan (2) institusi pendidikan tempat lembaga bernaung (UNIKA). Dengan demikian, maka nama majalah mahasiswa adalah VERITAS UNIKA. VERITAS diambil dari bahasa Latin yang artinya “KEBENARAN”.

Setelah menemukan nama, kami juga harus mencari apa motto majalah ini. Sama halnya dengan nama, kami juga berprinsip, motto majalah tidak perlu panjang-panjang, mudah diingat dan punya makna. Motto juga menggambarkan latar belakang, maksud dan tujuan majalah ini didirikan. Kami pun bertemu dengan motto “Berani Menulis Dimanapun Medannya”.

Kata-kata “Berani Menulis Dimanapun” diharapkan memberikan semangat adalah semua civitas akademika Unika Santo Thomas Medan, khususnya mahasiswa agar berani menuangkan ide, pikiran, gagasan dan hasil penelitiannya dalam bentuk tulisan. Sedangkan kata: “Medannya” artinya jenis medianya. Artinya, harus berani menulis di koran, majalah dan tabloid baik terbitan Medan maupun luar Medan.

Tak bisa dipungkiri, tidak sedikit mahasiswa Unika Santo Thomas Medan yang memiliki minat dan bakat dalam bidang menulis maupun meneliti. Namun, kampus belum memiliki media internal untuk melatih minat dan bakat tersebut atau menerbitkan tulisan-tulisan mahasiswa. Sementara untuk mengirimkan ke media cetak komersial di Medan dan luar Medan, masih banyak mahasiswa yang belum berani (ragu). Mahasiswa takut karyanya ditolak.

Di lain pihak, anggota-anggota Komunitas Veritas juga banyak menghasilkan tulisan-tulisan yang tidak seluruhnya dapat ditampung oleh media cetak komersial di Medan. Sehingga majalah mahasiswa bisa menjadi alternatif untuk menerbitkan tulisan-tulisan anggota Komunitas Veritas. Hal inilah yang melatarbelakangi, mengapa majalah ini harus diterbitkan.

Adapun maksud penerbitan Veritas Unika adalah (1) Sebagai sarana berlatih bagi seluruh mahasiswa Unika Santo Thomas Medan untuk menuangkan ide, pikiran, gagasan dan hasil penelitian dalam bentuk tulisan, (2) Bagi anggota Komunitas Veritas, majalah ini juga sebagai media alternatif untuk mempublikasikan karya-karyanya, dan (3) Dengan mengelola sebuah majalah mahasiswa, mahasiswa yang tergabung di dalamnya bisa belajar beroganisasi, memanajemen diri, bekerjasama dengan orang lain dan memanajemen waktu.

Sedangkan tujuannya adalah: Terciptanya sebuah media mahasiswa yang mampu menempa mahasiswa Unika Santo Thomas sebagai insan-insan yang mampu mengamalkan Tri Darma Perguruan Tinggi dalam bidang Penelitian dan Penulisan serta menjadi cikal bakal media alternatif yang berpengaruh di level mahasiswa di Sumatera Utara.

Majalah Veritas Unika direncanakan terbit setiap dua bulan dengan oplah 1.000 eksemplar. Selain di internal kampus Unika Santo Thomas, majalah ini direncanakan juga akan diedarkan di beberapa titik di luar kampus, seperti pusat perbelanjaan dan tempat nongkrong anak muda. Rubrik-rubrik yang ada antara lain: Fokus (membahas isu berkembang baik internal kampus dan luar kampus), Opini, Resensi Buku, Alumni Kita (profil alumni Unika Santo Thomas), Mahasiswa Berprestasi (profil mahasiswa berprestasi), Intra Kampus (profil lembaga kemahasiswaa), Rehat (cerpen, puisi dan lain-lain) dan Berita Kampus (informasi singkat kegiatan-kegiatan kampus).

Untuk rubrik-rubrik seperti Opini, Resensi Buku, Rehat dan Berita Kampus, redaksi mendedikasikan untuk seluruh civitas mahasiswa Unika Santo Thomas Medan. Artinya mereka bisa menuliskan segala informasi yang sesuai dengan rubrik tersebut di Veritas Unika. Sebagai timbal balik atas tulisan yang dikirim, redaksi Veritas Unika menyediakan suvenir kepada para penulis yang tulisannya dimuat. Suvenir ini kami peroleh dari para pemasang iklan yang bersedia memasang iklan di majalah Veritas Unika.
EDISI PERDANA – Sampul depan edisi perdana (O1/Juni-Juli 2013) Majalah Veritas Unika Santo Thomas Medan.(foto:repro)
Ide Gila
BANYAK yang menyebut kami (Komunitas Veritas) sedikit gila ketika memiliki ide menerbitkan publikasi mahasiswa seperti majalah. Tak sedikit pula yang pesimis dengan ide kami ini. Alasan mereka sederhana, minat baca dan menulis mahasiswa Unika Santo Thomas yang minim dan dana mencetak majalah juga tak sedikit.

Tapi kami punya argumen tersendiri soal alasan itu. Pertama, banyak keberhasilan yang justru lahir dari ide-ide yang sedikit gila kan. Argumen inilah yang kemudian membuat kami semakin yakin untuk menerbitkan Veritas Unika. Kedua, kami melihat banyak mahasiswa Unika Santo Thomas yang memiliki potensi menulis. Hanya saja, media untuk berlatih yang masih minim.

Karena itu, majalah ini kami terbitkan sebagai media untuk berlatih bagi mereka. Kami berharap, setelah berani menulis di Veritas Unika, mereka (mahasiswa) berani mengirimkan tulisannya ke media mainstream yang ada di Medan maupun luar Medan.

Saat menerbitkan majalah Veritas Unika, sejatinya kami hanya punya tiga hal: semangat, kebersamaan dan dana yang pas-pasan. Soal semangat, kami punya cita-cita agar kampus Unika Santo Thomas bisa setara dengan kampus-kampus lain di Sumatera Utara dalam hal publikasi mahasiswa seperti USU (majalah Suara USU), FISIP USU (majalah Diktum dan website Pijar), Unimed (majalah Kreatif), UMSU (majalah Teropong), IAIN Sumut (majalah Dinamika), STMIK/STIE IBBI (tabloid Expresi) dan Universitas Prima Indonesia (tabloid Prima).

Sejalan dengan semangat itulah, kami berupaya membangun kebersamaan yang positif agar penerbitan majalah ini bisa terus berjalan. Seluruh anggota redaksi kerap berkumpul untuk berdiskusi dan belajar bagaimana teknik-teknik menerbitkan majalah ataupun belajar teori-teori jurnalistik. Dengan kebersamaan yang ada, kami berupaya untuk menghadapi dan tidak menghindari masalah.

Kemudian soal dana. Terus terang, majalah mahasiswa sangat mudah untuk berhenti terbit. Alasannya klasik, dana. Bagaimana dengan Veritas Unika? Sama saja. Jujur saja, Veritas Unika ini kami terbitkan dengan dana yang pas-pasan.

Pendanaan majalah ini kami lakukan secara mandiri dan bukan dari dana universitas. Dananya kami peroleh dari iuran anggota redaksi, penjualan majalah, sumbangan hadiah anggota redaksi yang tulisannya dimuat di media cetak dan menang lomba dan sumbangan alumni.

Penjualan majalah kami prediksi masih menjadi pemasukan terbesar untuk Veritas Unika. Karena itu, kepada para pembaca, dukung majalah Veritas Unika agar tetap terbit dengan membeli Veritas Unika.
BELI MAJALAH – Sejumlah mahasiswa Unika Santo Thomas Medan membeli majalah Veritas Unika di sekretariat sementara Komunitas Veritas, Kampus Unika Santo Thomas Medan, Selasa (4/6).(foto: yuliana lumbangaol)
Sambutan Baik dari Civitas Unika
BEBERAPA hari setelah peluncuran majalah Veritas Unika (aku lupa hari dan tanggal berapa). Yang aku ingat, karena sepeda motorku dipinjam teman, aku naik angkot menuju kantor. Sekitar pukul 14.00 WIB, dari rumah di Komplek Pemda Tk I, aku naik becak hingga ke Simpang Pemda. Selanjutnya dari Simpang Pemda aku naik angkot pintu belakang (sudaco/kolo-kolo).

Angkot terus melaju menyusuri Jl. Setia Budi, Tanjung Sari. Kemudian melewati simpang kampus Unika Santo Thomas Medan. Di simpang kampus ini, angkot berhenti untuk menunggu penumpang (mahasiswa). Saat berhenti, aku melihat tiga mahasiswa (aku yakin mahasiswa karena wajahnya masih muda dan bawa tas) duduk di warung-warung di simpang kampus sedang membaca Veritas Unika dengan begitu seriusnya.

Aku melihat tangan ketiganya begitu antusias membolak-balik halaman demi halaman Veritas Unika. Beberapa kali mereka tersenyum saat membaca majalah tersebut (mungkin kagum dengan tulisanku yang juga ada di majalah itu, hahahaha).

Tak sampai 10 menit ngetem (berhenti) di Simpang Kampus, angkot kembali melaju. Saat melewati Gang Horas, aku melihat dua perempuan (sepertinya juga masih mahasiswa) berdiri di simpang Gang Horas sambil membaca Veritas Unika. Dari cara mereka berdua memegang majalah, aku yakin mereka sedang membaca halaman 2 yang berisi bok (kotak) redaksi Veritas Unika. Aku menduga, kalau mereka sedang mencari apakah namaku ada di box redaksi (hahaha).

Jujur saja, pemandangan yang aku lihat di Simpang Kampus dan Gang Horas tadi adalah pemandangan yang cukup unik dan membuatku cukup surprise. Aku menilai kalau sambutan mereka terhadap majalah Veritas Unika cukup baik.

Meskipun harus berbagi, mereka cukup antusias. Sayang sekali, aku tak membawa kamera saat itu untuk mengabadikan momen tersebut. Ponselku juga hanya ponsel China dan fasilitas kameranya juga tidak standar untuk merekam gambar dari jarak jauh (hahaha).

Sejatinya rasa surpriseku sudah terjadi saat di hari peluncuran. Penjualan majalah di hari pertama yang hampir menembus Rp 500 ribu adalah wujud dan dukungan yang positif dari warga kampus Unika Santo Thomas.

Di kelas, sejumlah dosen juga menyarankan agar mahasiswa membeli mahasiswa ini. Setidaknya, itulah laporan dari beberapa mahasiswa. Seperti pengakuan teman saya Nico Felix dalam komennya di Facebook hari Selasa/4 Juni 2013. Saat itu, aku mengingatkan Nico agar tidak lupa membeli majalah Veritas Unika.

"hahaha okok pak…aku beli bsk..Tadi disuruh pak A.M Purba Beli Majalahnya kt bpk itu “jng sampek gk dibeli saya kurangin nilai anda” wkwkwk kami sampek beli semua pak 1 ruang lagi..”

Ada juga beberapa dukungan yang disampaikan lewat media sosial seperti facebook. Misalnya dari pemilik akun Chandra Christian Samosir. Pada tanggal 11 Juni 2013, di grup facebook Majalah Veritas Unika, mahasiswa jurusan Akuntansi angkatan 2010 ini menulis seperti ini:

"Terbitnya majalah kampus ini membuatku mulai sadar ternyata kampusku bisa berekspresi lewat tulisan. jujur ketika ku tanya teman-temanku yang kuliah Di universitas lain mereka sangat berkembang dengan berkreasi serta suka mengirim karyanya ke media cetak dan majalah kampus. sejenakku berfikir, kenapa kampusku tidak ada??"

"Apakah aku salah memilih Unika sebagai kampusku mengingat aku dr negeri seberang yang mana dr dulu memang sangat suka membaca apalagi buku-buku berbau teologia dan novel-novel percintaan serta filsafah Tiongkok kuno yang selalu memberi inspirasi."

"Dengan situasi lingkungan sekarang terlebih teman-temanku sangat tidak suka membaca dan bertukar pikiran tentang sebuah referensi buku terkadang membuatku dianggap rendah terbanding terbalik dengan teman-temanku dulu yang membuatku terpacu agar lebih maju dr mereka dimana membaca dan pengetahuaanya sangat luas."

"semoga dengan adanya majalah ini bisa membangun unika terlebih menyadarkan mahasiswa bahwa membaca dan menulis itu sangat mengasikkan serta memiliki kepuasan tersendiri. semoga juga dengan ini banyak terpacu untuk mngirimkan artikelnya adan saling belajar terlebih-lebih kepada diriku sendiri agar bisa lebih berkembang lagi dengan berekspresi lewat tulisan.”
PANDANGI MAJALAH – Seorang mahasiswi Unika Santo Thomas Medan memandangi majalah Veritas Unika sembari menikmati makan siang di sebuah warung makan di Medan, beberapa waktu lalu.(foto:anggiat sinurat)
Kemudian pesan lain disampaikan pemilik akun “Kevin Ringo’s” pada tanggal 4 Juli 2013. Pada pesan yang dikirimkan ke akun Majalah Veritas Unika beliau menulis pesan “Nah ini dia Muncul…… selalu berkarya dan Sukses buat teman-teman Veritas……….”

Ada satu pesan lagi yang masuk ke akun Majalah Veritas Unika. Pesan tersebut dating dari pemilik akun “Nelvi Sihombing” tanggal 5 Juli 2013. Dalam pesannya, mahasiswa Politeknik Santo Thomas Medan ini menulis pesan: “Salam Persahabatan Buat Majalah Veritas Unika. saya anak semester 4 Politeknik Santo Thomas Medan. Sukses trus ya buat Majalah Veritas Unikanya.
Syalom.”

Semua dukungan berbentuk lisan dan tulisan ini adalah semangat bagi kami, anggota redaksi Veritas Unika agar lebih baik lagi di edisi berikutnya. Selain dukungan, ada juga pesimis, tidak peduli dan bahkan sepele akan kehadiran majalah ini. Tidak apa juga, semua ini kami anggap kritikan agar hasil kerja kami lebih baik lagi di edisi berikutnya.

Oya, setiap penerbitan, kami membutuhkan biaya antara Rp 2,5 hingga Rp 3 juta yang dialokasikan untuk biaya pencetakan majalah dan biaya operasional anggota redaksi. Lalu dari mana kami menutupi biaya ini?

Saat rapat redaksi, kami menargetkan pemasukan dari penjualan majalah sekitar Rp 1,5 hingga Rp 2 juta. Lalu sisanya kami peroleh dari iklan, sumbangan alumni dan uang kas Komunitas Veritas. Biayanya memang tidak sedikit. Tetapi kami percaya, pasti ada jalan.

Kami berharap, kehadiran majalah Veritas Unika menjadi sebuah oase di tengah gersangnya media publikasi informasi dalam tataran kampus Unika secara khusus dan masyarakat luas. Kami juga berharap, majalah ini mampu mendorong mahasiswa Unika Santo Thomas untuk Berani Menulis Dimanapun Medannya. Selamat Membaca dan Menulis!(Trully Okto Purba). 

×
Berita Terbaru Update