-->

Notification

×

iklan

logog

Iklan

logog

Cegah Generasi Nol Buku

Sabtu, 24 April 2021 | 08.27 WIB Last Updated 2021-04-24T09:27:21Z
Quote.
Oleh: Suryono Brandoi Siringo-ringo, SE
“Buku adalah gudang ilmu. Buku adalah jendela dunia.” Demikianlah kata-kata yang sering kita dengar dan kita ucapkan.

Entah dari mana asal kata-kata bijak itu, tapi yang jelas kata-kata itu sudah turun-temurun kita dengar. Dari dalam buku kita akan menemukan inspirasi, motivasi, dan berbagai khasanah ilmu pengetahuan.

Buku juga merupakan sumber harta yang tak ternilai harganya. Uang bisa habis, harta milik bisa lenyap, tapi pengetahuan tidak bisa dicuri.

Dalam kehidupan sekarang kata-kata seperti di atas hanya menjadi sekadar omongan saja, banyak diantara manusia jaman sekarang khususnya pelajar sebagai generasi bangsa sangat jarang untuk membaca buku. Mereka lebih mementingkan permainan daripada membaca buku.

Rendahnya Minat Baca
Membaca. Satu kata yang sederhana dan mudah untuk diucapkan, tetapi tidak begitu mudah dilakukan. Sepertinya hal itu tepat untuk menggambarkan budaya membaca di Indonesia.

Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia sudah sering dibicarakan di forum-forum diskusi, namun hingga saat ini tidak ada kemajuan signifikan terhadap minat baca masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda.

Terlebih lagi pada era globalisasi ini ketika perangkat elektronik nan canggih semakin menghiasi keseharian masyarakat Indonesia. televisi, laptop, handphone seakan sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat.

Televisi si kotak persegi ajaib yang memberikan suguhan audio visual dengan berbagai acara dan tontonan menarik seolah menjadi medan magnet yang begitu kuat.

Mayoritas lebih memilih menghabiskan waktu berjam-berjam di depan televisi untuk menonton acara televisi ketimbang, menyempatkan 15 menit dalam sehari untuk membaca.

Laptop si kotak segala ada menjadi medan magnet lain bagi masyarakat. Apalagi jika laptop itu tersambung dengan jaringan internet.

Meskipun masyarakat dapat mengakses berbagai bacaan dari internet tetapi kebanyakan orang lebih condong menggunakan laptop dan internet untuk mengakses situs-situs jejaring sosial, mengunduh film, bermain game online.

Handphone yang sedianya berfungsi untuk memperlancar dan mempermudah informasi dan kini mengalami pergeseran fungsi. Banyak orang lebih menikmati hidup dengan smartphone mereka ketimbang dengan buku.

Jumlah buku yang diterbitkan setiap tahun di Indonesia pun tergolong rendah, bahkan belum menembus angka 18000 judul buku pertahun. Jumlah buku yang mampu terbit di Indonesia hanya sekitar 6000-7000 judul buku pertahun.

Jumlah ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan Amerika Serikat yang mencapai 75000 judul buku pertahun, Jepang 40000 judul buku. Bahkan India pun sudah mampu menerbitkan 60000 judul buku pertahun.

Jumlah judul buku yang diterbitkan di Indonesia hampir sama dengan Vietnam. Namun, angka 7000 wajar bagi Vietnam karena jumlah penduduk Vietnam di bawah Indonesia.

Pengadaan buku gratis, dan penambahan jumlah perpustakaan umum serta perpustakaan keliling tak membawa banyak perubahan signifikan pada masyarakat khususnya remaja. Padahal akses dan berbagai fasilitas lainnya sudah mengalami peningkatan.

Mulai dari kemudahan mendapatkan buku pinjaman, variasi buku hingga buku-buku yang ditulis oleh penulis luar negeri kini bisa dengan mudah dinikmati oleh para pembaca Indonesia karena sudah diterjemahkan ke dalam bahasa nasional, bahasa Indonesia.

Generasi muda sepertinya makin ogah-ogahan berhadapan dengan buku entah itu fiksi maupun non fiksi.

Padahal menurut penelitian membaca buku dapat menurunkan kadar stres lebih besar daripada mendengarkan musik. Membaca buku juga dapat membantu otak untuk mengeluarkan ide-ide segar. Selain itu membaca dapat meningkatkan daya imajinasi pada otak.

Cegah Generasi Nol Buku
Miris memang menyadari bahwa minat baca generasi muda memang rendah. Generasi muda adalah penerus cita-cita bangsa yang seharusnya melahirkan ide-ide kreatif.

Tantangan untuk membaca semakin besar bagi bangsa Indonesia apalagi generasi muda. Kebiasaan membaca info-info singkat di internet dan membaca bacaan ringan membuat masyarakat Indonesia berpikir ulang ketika harus membaca bacaan berbobot yang memerlukan pikiran untuk menyikapinya.

Konstruksi satu lapis ide pun akan menjadi ciri khas masyarakat Indonesia jika generasi muda tak mampu mengubah paradigma tentang membaca buku. Masyarakat kesulitan untuk mengembangkan ide dan mengartikan isi bacaan yang berbobot.

Disisi lain, perkembangan zaman, merupakan suatu keniscayaan, bahwa pola fikir dan perilaku juga harus menyesuaikan segala perubahan yang terjadi, tetapi dengan catatan segala sesuatu harus bisa difilter, agar tidak semua budaya baru diambil mentah-mentah.

Begitu pula dengan anak kita yang hidup pada generasi teknologi digital saat ini, hampir semuanya berbasis teknologi canggih, seperti game online, play station, dan hampir sebagian besar anak-anak zaman sekarang sudah mengerti yang namanya internet, apalagi di setiap aplikasi handphone, selalu ada game.

Tapi disamping itu kita harus sadar bahwa tanpa membaca buku pengetahuan kita mungkin tidak akan cepat berkembang dan kita kurang mengetahui mengenai suatu hal yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan.

Membaca akan membuka peluang untuk menyerap sebanyak mungkin ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kehidupan. Membaca akan menumbuhkan kemampuan untuk berpikir kreatif, kritis, analitis dan imajinatif.

Melalui membaca akan membentuk kemampuan berpikir lewat proses: menangkap gagasan/informasi, memahami, mengimajinasikan, menerapkan dan mengekspresikan.

Karena begitu pentingnya dalam membaca, utamakanlah membaca buku yang bermanfaat dari pada bermain game online yang hanya membuang-buang waktu luang dan menghabiskan uang.

Bila kita mempunyai kebiasaan membaca akan memiliki keterampilan, kemampuan dan ketajaman mencerna isi bacaan. Apa yang menggerakkan kita untuk membaca akan menentukan bagaimana kita menyerap dan memahami informasi yang kita lahap.

Semakin sering kita membaca buku yang bermanfaat, baik penuturan kata dan kemampuan berpikir akan lebih matang dan tertata.

Otomatis, kita akan memiliki kerangka berpikir yang kokoh dan rapi dalam menimbang dan menilai apa yang kita serap dengan lebih baik. Satu lagi manfaat bila kita sering membaca, kita akan terbiasa berpikir dan menggunakan pengetahuan yang kita miliki untuk memahami sekeliling dan akan terus mencoba untuk memahami segala sesuatu secara lebih teratur.

Akhirnya, generasi nol buku bisa dicegah, semua itu tergantung pada diri setiap generasi muda. Apakah mereka akan berusaha mengenal baca buku? Atau menjadi remaja yang terjangkit virus anti buku?. (Diterbitkan di Harian Analisa Kolom Opini pada 13 Januari 2014).

Selamat hari Buku Sedunia, 23 April 2021.
×
Berita Terbaru Update