-->

Notification

×

iklan

Iklan

Perang Saraf Politik Di Negeri Kepingan Surga

Minggu, 26 Juli 2020 | 13.01 WIB Last Updated 2020-07-26T07:02:21Z
Ilustrasi.(Sijai.com).
Suriono Brandoi Siringoringo
Walau memang saat ini bukan musim panas. Namun hawa yang menyengat tubuh sudah lama ada. Karena memang dingin tak akan mungkin meredam panasnya perang saraf dan udara yang melanda perpolitikan 'negeri kepingan surga' saat ini.

Perang yang tiada peduli siapa korbannya. Mulai politisi, pakar politik, akademisi, wartawan, penulis, rakyat jelata dan banyak lagi hingga anak kecil pun yang tidak mengenal apa itu politik telah jadi korbannya.

Dentuman meriam para simpatisan masing-masing bakal calon kandidat memekikkan suasana. Terlihat tank-tank merkava milik mereka tak punya rasa berjalan gagah menubruk semua yang ada di hadapannya, tak peduli apa dan siapa.

Terkadang mereka memuntahkan amunisi tajam bernama Black Campaign yang tentunya melukai dan membunuh demokrasi dan ideologi bangsanya sendiri, Pancasila.

Akh, memang perang ini hanya sekali lima tahun terjadi. Tapi ledakannya mampu memporak porandakan hati dan pikiran rakyat negeri ini.

Mampu memecahkan menjadi beberapa kubu yang saling berperang saraf baik di media sosial dan di dunia nyata.

Parahnya, jika rasa memiliki yang cenderung fanatisme yang tumbuh di masyarakat ini dibiarkan terus-menerus akan menciptakan kondisi primordialisme dan menjadi sensitif disaat ada gesekan dan pergolakan.

Sangat mengerikan bukan, jika hal tersebut terciderai oleh sebuah konflik, tak jarang darah tertumpah dan nyawa melayang. Efek domino juga akan timbul dan menggesek dan mengerakan orang lain, yang acapkali konflik akan semakin membesar.

Perbedaan Jangan Jadi Pembeda
Perbedaan kita hanyalah soal pilihan namun tetap dalam satu ikatan satu nenek moyang. Pancasila telah mempersatukan kita dalam perbedaan warna, untuk saling mengerti dan memahami perbedaan di antara kita. 

Sudah selayaknya jalinan dan untaian cinta tanah air bisa kita terjemahkan dalam wujud saling menghormati dan menghargai satu dengan yang lain.

Mampu mengendalikan diri dari setiap gesekan, melihat perbedaan secara bijaksana dan meredam emosi yang ada. Sadar kita dari satu nenek moyang yang artinya satu saudara dengan materi genetik yang identik.

Sehingga perbedaan kini bukan lagi pembeda, tetapi inventaris keanekaragaman yang tinggi dan harta kekayaan yang tak ternilai.

Bangga menjadi Orang Samosir maupun Indonesia, dari nenek moyang yang sama dengan beragam budaya yang berbeda, artinya peradaban kita jauh lebih bervariatif dan penuh warna.

Berikan senyum untuk Samosir, dan tunjukan perbedaan adalah perekat yang kuat untuk persatuan kita dan biarkan pelangi nusantara terus memberikan warna-warna indah. 

Karena kita sebagai negeri yang beradat konon dikenal ramah tamah, jangan sampai dinodai oleh keberingasan dan jiwa bar-bar seolah menjadi nila setetes yang merusak susu se-Samosir.
×
Berita Terbaru Update