-->

Notification

×

iklan

Iklan

IMG-20220326-WA0052

Bunga

Selasa, 15 Maret 2022 | 12.52 WIB Last Updated 2022-03-15T05:52:22Z
Ilustrasi bunga/Shutterstock/Yen Hung
Oleh: Suriono Brandoi Siringoringo SE

Usai mandi dan mengenakan pakaian formilnya, wanita itu masih saja berdandan di depan kaca. Ia menyemprotkan parfum di bawah daun telinga.

Di dada kiri tempat jantung bersembunyi, dan sedikit olesan di denyut nadi pergelangan tangan.

Senyum cerah tersungging dalam cermin besar dan jernih. Seperti kuncup putih melati, senyum itu ditatapnya berulang kali.

Entah siapa yang perintah, tiba-tiba tangganya bergerak, mengambil kembali botol parfum dari atas meja dan menyemprotkannya di kedua telapak kaki.

Tapi, pikirnya masih ada yang kurang. "Telapak tangan dan jari-jariku mesti wangi agar saat bersalaman dengan atasanku nanti dilekati keharuman yang sama," gumamnya.

"Ma, udah siap dandannya? Papa udah telah nih ngikuti apel pagi di kantor," tanya suami Bunga yang sedari tadi berusaha bersabar menunggu istrinya itu.

Sontak pertanyaan itu mengejutkan wanita  yang asyik berdandan ria tersebut. "Bentar, gak sabaran amat sih," jawabnya dengan rada-rada kesal.

Begitulah kebiasaan wanita itu saban pagi saat mau ke kantor. Sebut saja namanya Bunga, bukan nama sebenarnya. Usianya mau menjalani kepala empat, namun kecantikannya masih begitu menawan.

Perempuan ini bersama suaminya bekerja sebagai pegawai negeri di instansi berbeda namun masih dalam satu kabupaten yang sama.

Sekitar 8 tahun yang lalu, ia menikah dengan suaminya itu. Dari hasil pernikahan tersebut, mereka dikaruniai dua anak (satu laki-laki dan satu perempuan).

Secara ekonomi, kehidupan rumah tangga Bunga lumayan mapan. Dengan penghasilan mereka berdua sebagai pegawai, kehidupan mereka jauh dari kata kekurangan.

Namun karena parasnya yang cantik nan menawan. Pun bodynya yang aduhai menggoda. Terlebih setiap kali ke kantor selalu menggenakan pakaian formil yang seksi, yang menunjukkan lekuk-lekuk tubuhnya, sungguh mempesona dan secara lelaki tak kuasa untuk tidak memandanginya lekat-lekat.

Setiap kali Bunga berjalan, ia menyebarkan wewangian bunga dari aroma parfum yang ia pakai. Ia berjalan begitu menggoda, bagaikan selembut nadi yang berdenyut. 

Ia berbicara begitu lembut dan dingin sedingin hembusan angin. Senyumnya seperti cahaya yang mengkilat. Tatapan matanya begitu tajam dan mempesona. Membuat kaum Adam terhipnotis oleh kecantikan dan wanginya wanita itu.

Tergila-gila, pikiran jadi kacau, tidak bisa berpikir jernih dibuat pesona Bunga. Seakan-akan seekor serangga kecil masuk lewat kuping. Lantas serangga kecil itu akan memakan perlahan-lahan otaknya sampai habis tidak bersisa. Sampai isi kepala jadi kosong.

Dan hal ini terbukti dengan jatuh hatinya kepala dinas, pimpinan tempat Bunga bekerja, kepadanya.

Sebut saja kepala dinas itu bernama Togap, bukan nama sebenarnya. Meski usianya sudah kepala lima dan beristri, namun ia tidak tahan menahan hasratnya untuk bermain hati dengan Bunga yang sudah bersuami itu.

Kepala dinas yang satu ini memang sering menjadi bahan obrolan para pegawai. Selain karena kegagahannya dan bertubuh tinggi, tegap, berkumis serta berjenggot tebal, satu hal yang menjadi daya tarik kaum hawa adalah bulu tangan dan kakinya yang lebat, terlihat sangat seksi bagi wanita.

Dan itu juga alasan Bunga yang awalnya berusaha menolak rayuan yang berkali-kali dilancarkan oleh Togap, akhirnya jatuh juga ke pelukan atasannya itu.

Trik jitu yang digunakan Togap untuk meluluhkan hati Bunga begitu menggoda. Togap selalu mengistimewakan Bunga juga melejitkan kariernya yang tadinya hanya staf biasa menjadi sekretaris pribadi atasan.

Semenjak menjadi sekretaris, Bunga tentu hampir setiap hari bersama dengan Togap. Bahkan saat perjalanan dinas ke luar kota, mereka selalu bersama. Bisa dikatakan hari-hari Bunga lebih banyak dihabiskan bersama Togap ketimbang suaminya.

Bukan tidak ada kecurigaan suami Bunga maupun istri Togap terhadap hubungan mereka berdua. Terlebih Bunga tergolong masih baru pegawai dan kemampuannya pun sebetulnya pas-pasan tetapi kariernya melejit seperti meteor.

Namun karena Bunga lihai menyembunyikan perselingkuhannya dan juga suaminya yang begitu percaya dengan istrinya itu, sehingga tidak berniat untuk menyelidiki lebih jauh tindak tanduk istrinya itu.

Di kantor bukan tidak berhembus rumor tidak sedap tentang hubungan antara atasan dengan bawahan itu. Namun karena kepala dinas itu begitu disegani di kantor tersebut, sehingga tidak ada yang berani mencampuri urusan mereka berdua.

Terlebih Togap juga dikenal sebagai pribadi yang gila kerja. Ia sering pagi-pagi sekali sudah di kantor dan tak jarang masih berada di kantor hingga larut malam meski sebetulnya jam kerja sudah selesai pukul 16.00 Wib.

Jadi akan terlihat wajar jika seorang atasan akan membutuhkan sekretaris pribadi. Walau sebenarnya alasan Togap lama pulang, karena sedang asyik memadu kasih dengan Bunga.(Bersambung.....)
×
Berita Terbaru Update